TANGANNYA yang kokoh tapi diselimuti kulit halus, menggapai lengan saya dengan sentuhan aneh. "Ini lembaran press release punya kamu," katanya simpatik, sambil menyerahkan lembar kertas tak penting itu. Yang membuat saya diam beberapa detik, adalah pandangan tajamnya. Yang tak pergi-pergi dari bola mata saya. Ia juga tidak menjauh. Sehingga saya bisa menangkap seluruh gambaran tubuhnya. Termasuk dua gundukan di dadanya. Astaga. Dia perempuan! "Nama saya Jo..." Suaranya bariton. Kemudian hari-hari saya bergulir, mengantarkan "astaga" demi "astaga" lainnya. Mulanya saya terenyak. Lalu berusaha memaklumi. Memahami. Semakin mengerti. Kemudian hanyut di dalamnya.
Dia seperti udara yang menelusup begitu saja dalam relung hidup saya. Dia perempuan. Saya perempuan. Kami bercinta.
...Penulisannya yang segar dan "limer" membuat novel ini terasa gurih dinikmati. Cornelia Agatha, artis
...Lincah, menghibur, namun juga mengejutkan, menantang keberanian... Andrei Aksana, singing author
Tulisan AE lincah, apik, dan mengalir tanpa dipaksakan, membuat kita tidak bisa berhenti membacanya... Clara Ng, novelis
...AE asyik banget mengungkapkan masalah gay atau lesbian sebagai bagian dari hidup, bukan penyakit atau sesuatu yang harus dihindari. Rully Larasati, redaktur Cita Cinta